Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Terkini Aktivitas Kedubes
 
Home > Topik Khusus > Hubungan Tiongkok-ASEAN
Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN Dorong Perkembangan Berkelanjutan Ekonomi Asia
2010/09/13
 

Forum Ekonomi Dunia Davos Musim Panas 2010 kemarin ( 13/09 ) digelar di Kota Tianjin, Tiongkok utara. 1.500 pejabat pemerintah dan pejabat kalangan perdagangan serta sejumlah sarjana menghadiri forum untuk membahas masalah perkembangan berkelanjutan pasca krisis moneter. Menteri Perdagangan Indonesia Mari Elka Pangestu tampak menghadiri forum dengan status sebagai salah satu wakil kawasan ASEAN. Sebagai negara besar di kawasan ASEAN dan salah satu komunitas ekonomi yang baru bangkit di dunia, Indonesia berharap memanfaatkan peluang historik dari zona perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN, menjadi kekuatan utama perpaduan ekonomi Asia dalam proses pekembangan berkelanjutan.

Peresmian zona perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN pada Januari tahun ini telah membuka sebuah jalan serba baru bagi perkembangan negara-negara ASEAN, Menteri Mari Elka Pangestu menyatakan, Indonesia akan mendorong pengintegrasian ekonomi kawasan Asia, menjamin sepenuhnya kerangka Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO ) dan perundingan putaran Doha menjadi model pengembangan ekonomi dengan biaya rendah. Dalam perundingan putaran Doha WTO, perundingan ekonomi dan perdagangan kawasan pasti ditandatangani, inilah kecenderungan historik perkembangan perdagangan, tepat seperti pembangunan zona perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN. Menteri Mari Elka Pangestu menyatakan, peresmian zona perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN sangat meningkatkan daya saing Indonesia di dunia internasional, dan bukanlah yang dikhawatirkan sejumlah sebelumnya bahwa zona perdagangan bebas akan melemahkan daya saing negara-negara ASEAN.

Menumpang kereta ekspres ekonomi Tiongkok merupakan unsur pendorong utama bagi negara-negara ASEAN untuk ambil bagian dalam pembangunan zona perdagangan bebas, namun mereka juga pernah khawatir menghadapi dampak ekspor Tiongkok, terutama dalam industri manufaktur tradisional. Pada awal peresmian zona perdagangan bebas, sebagian sektor Indonesia pernah menolaknya, dan menuntut pemerintah menunda pelaksanaan zona perdagangan bebas dengan alasan bahwa zona perdagangan bebas akan menyababkan perusahaan Indonesia gulung tikar. Namun melalui perkembangan selama hampir satu tahun, kenyataan membuktikan, Indonesia mendapat manfaat dari Tiongkok yang merupakan pasar konsumsi utama, persaingan pasar yang seru telah merangsang industri manufaktur untuk meningkatkan kemampuan dan keefektifan produksi. Menteri Mari Elka Pangestu sebelumnya pernah menyatakan, tak mungkin semua sektor ekonomi mendapat manfaat dari zona perdagangan bebas, pihak Indonesia menyadari hal itu. Merealisasi " menang bersama " di bawah kerangka zona perdagangan bebas merupakan target utama.

 

Suggest to a friend
  Print