Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Tentang Tiongkok Berita Kedubes
 
Home > Berita Tentang Tiongkok
Ikut Berikan Andil Dalam Pertukaan Kebudayaan Tiongkok-Indonesia
2007/09/26

 

 

Tanggal 26 September yang lalu, bertempat di ula kantor Departemen Pendidikan Indonesia, berlangsung upacara meriah untuk menyambut kedatangan gelombang ketiga relawan guru bahasa Tionghoa dari Tiongkok sebanyak 81 orang untuk mengajar di Indonesia.

 

Qin Zhimin, wakil relawan guru itu mengatakan: "Meski baru saja menginjakkan kaki di bumi yang indah ini, namun kami telah merasakan keramahan dan persahabatan rakyat Indonesia. Kami akan segera bertugas di berbagai daerah untuk menyebar-luaskan bahasa Tionghoa di kalangan pemuda remaja Indonesia dan memperkenalkan kebudayaan Tiongkok dalam rangka memberikan andil kepada pertukaran kebudayaan antara kedua negara."

 

Dai Xu, seorang mahasiswa yang berasal dari Zigong, Provinsi Sichuan lulusan Universitas Pendidikan Guru Sichuan, sebenarnya sudah mendapat pekerjaan yang stabil, tapi begitu mengetahui kabar tentang pendaftaran relawan guru bahasa Tionghoa untuk bertugas di luar negeri, ia tanpa ragu-ragu segera mengikuti ujian seleksi, dan menerima pelatihan khusus di Sichuan dan Beijing. Melalui seleksi acak, ia beruntung terpilih untuk dikirim ke Indonesia.

 

"Pertukaan kebudayaan antara Tiongkok dengan luar negeri merupakan satu hal yang sangat berarti. Di luar negeri, kita bisa belajar bagaimana berkomunikasi dengan penduduk setempat untuk mengetahui lebih banyak tentang mereka, dan menambah pengetahuan bagi kita sendiri." Demikian kata Dai Xu yang sangat yakin akan kehidupan mengajar selama 10 bulan di Indonesia.

 

Liu Xu, lulusan Unversitas Pendidikan Guru Hunan mengatakan: "Pada 2006, saya sempat mengajar bahasa Tionghoa selama 10 bulan di sebuah sekolah menengah negeri di Pontianak, Kalimantan Barat. Saya sangat terkesan oleh pengalaman selama bertugas di sana dan perkembangan pendidikan bahasa Tionghoa setempat. Maka saya memutuskan untuk kembali lagi ke Indonesia setelah pulang ke tanah air tahun ini."

 

Liu Xu yang sudah pernah bertugas sebagai relawan guru bahasa Tionghoa telah menyaksikan perkembangan pesat pendidikan bahasa Tionghoa di Indonesia. Tahun 2004, gelombang pertama relawan guru bahasa Tionghoa sebanyak 20 orang datang ke Indonesia, dan angka itu meningkat tiga kali lipat tiga tahun kemudian.

 

Bulan Juli 2005, Hanban atau kantor pengajaran bahasa Tionghoa di luar negeri dan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Indonesia menandatangani persetujuan tentang pendidikan bahasa Tionghoa, bahasa Tionghoa secara resmi menjadi salah satu kurikulum ekstra bahasa asing sekolah menengah atas negeri Indonesia. Tahun 2006, 35 sekolah di bawah Departemen Pendidikan Indonesia mengundang relawan bahasa Tionghoa dari Tiongkok, dan tahun ini jumlah sekolah yang mengajukan permintaan telah mencapai lebih 70.

 

Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Nomor 5 Balikpapan Siswantono mengatakan: "Kontak antara Indonesia dan Tiongkok kini semakin erat, dan semakin banyak orang di Indonesia ingin belajar bahasa Tionghoa untuk mengetahui bahasa dan kebudayaan Tiongkok. Sekolah kami dengan sendirinya memilih bahasa Tionghoa sebagai mata pelajaran bahasa asing kedua bagi anak-anak sekolah. Hingga kini mata pelajaran bahasa Tionghoa sudah berjalan dengan lancar selama dua tahun."

 

Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Lan Lijun mengatakan: "Kami mengharapkan relawan guru bertindak sebagai duta kebudayaan Tiongkok, mengembangkan semangat berdedikasi tanpa pamrih, mengatasi berbagai kesulitan, melakukan dengan baik pekerjaan pengajaran bahasa Tionghoa dan menjadi sahabat para guru dan pelajar Indonesia. Melalui kegiatan pengajaran dan budaya, memberikan sumbangan demi meningkatkan pengajaran bahasa Tionghoa di Indonesia untuk mendorong maju saling pengertian dan pesahabatan antara kedua negara, dan demi meningkatkan pertukaran kedua negara di bidang-bidang pendidikan dan kebudayaan."

 

Suggest to a friend
  Print