Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Terkini Aktivitas Kedubes
 
Home > Berita Terkini
Artikel Dubes Xiao Qian: Fakta Seputar Gesekan Perdagangan Tiongkok-AS
2019/06/11

Pada tanggal 10 Juni, Artikel Duta Besar Xiao Qian dimuat pada Harian Bisnis Indonesia, berjudul Fakta Seputar Gesekan Perdagangan Tiongkok-AS. Berikut teks lengkap:

 

Fakta Seputar Gesekan Perdagangan Tiongkok-AS

 

Pada 10 Mei 2019, Amerika Serikat (AS) mengumumkan kenaikan tarif impor untuk produk Tiongkok senilai US$ 200 miliar, dari semula 10 persen menjadi 25 persen. AS juga akan memberlakukan tarif pada produk impor lain asal Tiongkok senilai US$ 300 miliar. Tindakan AS ini menyebabkan semakin memanasnya gesekan perdagangan di antara kedua negara.

AS yang Memulai Terlebih Dahulu

Pemerintahan baru di AS yang berkuasa sejak 2017 menerapkan kebijakan “America First”. Sejak itu pula, AS sering menyalahkan banyak negara, terutama pada Tiongkok, dengan kritikan-kritikan yang tidak sesuai kenyataan. AS juga mengambil langkah intimidasi ekonomi, termasuk dengan menaikkan tarif impor. Tindakan AS ini adalah untuk memaksa Tiongkok menerima tuntutan-tuntutan yang semata-mata menguntungkan kepentingan AS sendiri. Pada April 2018, AS mengenakan tarif sebesar 25 persen atas impor senilai US$ 50 miliar dari Tiongkok, dan secara sepihak memicu perang dagang.

AS Maju Mundur dan Ingkar Janji dalam Perundingan

Sepanjang sejarah hubungan kedua negara, Tiongkok senantiasa menaruh perhatian serius dalam memelihara kestabilan hubungan dengan AS. Tiongkok juga memegang prinsip kejujuran dan kesabaran dalam membuka banyak perundingan dengan pemerintah AS. Pada Mei 2018, kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk menghindari perang dagang. Kesepakatan ini bahkan telah dikukuhkan dengan pernyataan bersama yang dipublikasikan pada 19 Mei 2018. Namun, hanya berselang sepuluh hari kemudian, AS sudah melanggar komitmennya sendiri dalam kesepakatan itu. AS mengumumkan akan menarik tarif impor sebesar 25 persen terhadap sejumlah produk teknologi industri utama asal Tiongkok senilai US$ 50 miliar. Tindakan AS ini semakin memanaskan gesekan perdagangan di antara kedua negara.

Pada 1 Desember 2018, kepala negara Tiongkok dan AS bertemu di sela penyelenggaraan KTT G-20 di Buenos Aires, Argentina. Dalam pertemuan itu, kedua kepala negara telah mencapai kesepahaman penting untuk bersama mendorong hubungan ekonomi kedua negara agar berkembang secara sehat dan stabil. Setelah tercapai kesepahaman, tim ekonomi dan perdagangan dari kedua negara telah menggelar tujuh putaran negosiasi. Namun AS kemudian menggunakan praktik perisakan perdagangan, yaitu dengan sering melanggar kesepakatan atau bersikap maju-mundur dalam negosiasi, juga secara sewenang-wenang menerapkan tarif tinggi terhadap produk impor, bahkan menuntut pembelian secara paksa. Tindakan-tindakan perisakan perdagangan ini sering membuat perundingan menjadi alot. Dan kini, sekali lagi AS menaikkan tarif impor dan mengakibatkan kemunduran besar dalam proses negosiasi kedua negara.

Tindakan AS Bahayakan Dunia

Baik Tiongkok maupun Amerika adalah sesama anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sehingga kedua pihak seharusnya bisa menggunakan jalur Mekanisme Penyelesaian Sengketa WTO untuk mengatasi sengketa perdagangan. Namun AS menghindari mekanisme ini, dan justru menyulut perselisihan menggunakan dalih UU dalam negeri mereka sendiri. Tindakan AS ini jelas menginjak-injak aturan perdagangan multilateral, sekaligus menantang sistem perdagangan multilateral yang direpresentasikan oleh WTO.

AS telah menyalahgunakan penetapan tarif impor untuk menekan negara lain. Tindakan AS ini bertentangan dengan prinsip persaingan pasar dan etika perdagangan, sekaligus melawan arus globalisasi ekonomi dunia. Tindakan ini tentunya merugikan kepentingan dunia bisnis maupun kepentingan konsumen di kedua negara. Namun lebih daripada itu, tindakan ini juga mengancam keamanan rantai industri global, rantai nilai global, dan rantai distribusi global. Tindakan AS ini telah merusak tatanan perdagangan internasional, sekaligus menyebabkan meningkatnya faktor ketidakpastian dalam pertumbuhan ekonomi global maupun regional, termasuk di Indonesia.

Dalam laporan PBB bertajuk Situasi dan Prospek Ekonomi Dunia 2019, pertumbuhan perdagangan global di tengah memanasnya gesekan perdagangan diramalkan akan menurun dari 5,3 persen pada tahun 2017 menjadi 2,7 persen pada 2019. Bank investasi terkemuka di AS, Morgan Stanley, juga menerbitkan peringatan bahwa apabila AS mempertahankan tarif impor sebesar 25 persen terhadap produk Tiongkok senilai US$ 200 miliar selama tiga hingga empat bulan, maka pertumbuhan ekonomi dunia mungkin akan melambat menjadi 2,7 persen.

Menurut laporan The Institute of International Finance, memanasnya gesekan perdagangan antara Tiongkok dan AS menyebabkan negara-negara berkembang mengalami pelarian dana asing (capital flight) yang terburuk sejak Oktober 2018. Lembaga think tank Amerika, Atlantic Council juga merilis hasil riset yang menyatakan bahwa bursa saham di negara-negara berkembang anjlok hingga lebih dari 8 persen sejak memanasnya perang dagang antara AS dan Tiongkok pada awal Mei 2019. Media di Asia Tenggara juga melaporkan tentang kejatuhan bursa saham di sebagian besar negara Asia Tenggara dalam beberapa waktu terakhir ini. Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dana asing sebesar Rp 11 triliun telah meninggalkan Indonesia hanya dalam empat hari antara 13 hingga 16 Mei. Dampak yang ditimbulkan oleh tindakan AS terhadap pasar negara-negara berkembang ini patut diwaspadai.

Tiongkok Bertekad Melindungi Kepentingan Nasionalnya

Hubungan perdagangan antara Tiongkok dan AS terwujud dalam tatanan perdagangan bebas dunia. Kedua pihak sama-sama diuntungkan dalam hubungan ini, sehingga tidak ada pihak yang lebih untung atau lebih merugi dibanding yang lain. Sikap Tiongkok dalam hubungan ini sangat jelas—jika ingin berunding, maka pintu terbuka lebar; namun jika ingin berperang, maka akan dihadapi dengan gigih sampai penghabisan. Sesungguhnya dalam perang dagang tidak ada pihak yang akan menjadi pemenang. Tiongkok tidak ingin berperang, tetapi juga tidak takut berperang apabila keadaan memaksa demikian. Tekanan ekstrem mustahil akan membuat Tiongkok menyerah. Pemerasan perdagangan juga tidak mungkin akan membuat Tiongkok mundur. Apabila pihak AS ingin meneruskan langkah perundingan, maka mereka harus mengutamakan kejujuran dan kemauan untuk mengoreksi kesalahan. Perundingan juga harus dilangsungkan atas dasar perlakuan yang setara dan sikap saling menghormati. Dalam kerja sama ada prinsip yang harus dipegang, dan dalam perundingan ada batas bawah yang tidak bisa ditawar. Terkait masalah-masalah prinsipiil yang utama, Tiongkok jelas tidak akan berkompromi sedikit pun.

Dunia Harus Menentang Unilateralisme dan Proteksionisme

Gesekan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika sesungguhnya adalah gesekan antara paham multilateralisme dengan unilateralisme, gesekan antara perdagangan bebas dengan proteksionisme, serta gesekan antara perundingan berdasar kesetaraan dengan strategi perisakan. Unilateralisme, proteksionisme, dan perisakan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, dan malah hanya bisa menciptakan masalah-masalah baru. Negara-negara di dunia hendaknya bersatu padu untuk menciptakan kue kemakmuran yang besar, lalu berbagi kue ini dengan cara yang baik melalui perundingan yang bersahabat, dan bukannya menggunakan perang dagang untuk menghancurkan kue ini. Tiongkok berharap untuk meningkatkan kerja sama yang saling menguntungkan dengan Indonesia dan negara-negara ASEAN maupun negara-negara lain di dunia, demi menjadi langkah nyata untuk mendukung globalisasi ekonomi dunia, untuk bersama membela sistem dan aturan perdagangan multilateral, serta untuk bersama membangun ekonomi dunia yang terbuka dan berstandar tinggi.

Suggest to a friend
  Print