Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Tentang Tiongkok Berita Kedubes
 
Home > Budaya, Pendidikan & IPTEK > Kebijaksanaan Kebudayaan
Mempererat Hubungan RI-China dengan "Institut Konghucu"
2007/10/01



Jakarta – Warga Indonesia yang tertarik mempelajari budaya Tiongkok sekaligus ingin memperdalam kemampuan bahasa Mandarin tampaknya tidak perlu lagi terpaku pada pepatah lama: "Belajarlah sampai ke negeri China." Itu karena pemerintah China sejak akhir bulan lalu memfasilitasi pembentukan Institut Konghucu (Kongzi) di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.

Dengan terbentuknya Institut Konghucu, hubungan kedua negara tidak saja semakin erat, namun juga memperluas ruang lingkup hubungan antarkedua bangsa dengan memperkenalkan budaya China kepada khalayak di Indonesia. Demikian menurut kalangan diplomat dan akademisi saat menghadiri peresmian Institut Konghucu di Indonesia yang berlangsung di Kedutaan Besar China di Jakarta, Jumat pekan lalu.
"Institut Kongzi merupakan program dari Kantor Dewan Internasional urusan Bahasa Mandarin (Hanban) yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat di seluruh dunia akan bahasa dan budaya China, serta memfasilitasi pelajar bahasa Mandarin dari berbagai negara," kata Duta Besar (Dubes) China untuk Indonesia, Lan Lijun.

Dia mengungkapkan bahwa sampai akhir Agustus 2007, telah didirikan 182 Institut Kongzi (kelas) di lebih dari lima puluh negara dan wilayah. Sedangkan di Indonesia baru tiga institusi pendidikan yang menjalin kerja sama dengan Hanban untuk mendirikan Institut Kongzi – yaitu Sekolah Bina Terampil Insan Persada (Jakarta), Universitas Malang, dan Universitas Kristen Maranatha (Bandung). Mereka menjalin kerja sama dengan Universitas Hainan, China, yang mengirimkan beberapa pelajar untuk menjadi guru bahasa di Indonesia melalui Institut Kongzi.

"Kami rutin mengirim tenaga-tenaga pengajar bahasa Mandarin ke Indonesia. Ada yang cuma ditempatkan satu tahun, namun ada juga yang sampai empat tahun. Para siswa dan guru bahasa di China sangat antusias untuk berbagi pengalaman dan kemampuan di Indonesia," kata Wakil Rektor Universitas Hainan, Zhang Chengyi. Dia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional sejak 2005 juga mengirim beberapa pengajar untuk memperdalam penguasaan bahasa Mandarin di kampusnya selama satu tahun.

Duta Besar China, Lan Lijun(kiri kedua) dan pimpinan Bina Terampil Insan Persada, Philip Liwan Pangkey(kana kedua)



Memperingati Confusius


Institut Konghucu atau Kongzi berdasarkan nama dari seorang filsuf legendaris, Kong Fuzi atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Confusius. Pemikiran-pemikirannya mengenai filosofi atau pandangan hidup – seperti keharmonisan sosial, keadilan, dan moral – menyebar tidak saja di penjuru China, namun juga di wilayah-wilayah timur Asia sampai Indonesia. Dubes Lan mengungkapkan bahwa peresmian Institut Konghucu di Indonesia sengaja dilakukan tanggal 28 September, yang diyakini merupakan tanggal lahirnya Confusius pada tahun 551 sebelum Masehi.


"Di tempat lahir Kongzi, yaitu Qufu di Provinsi Shandong juga acara diadakan untuk merayakan hari lahir Kongzi, sehingga pendirian tiga Institut Kongzi di Indonesia sekaligus menjadi peringatan terbaik terhadap Kongzi," kata Lan.


Philip Liwan Pangkey, pimpinan sekolah Bina Terampil Insan Persada, menilai bahwa istilah Institut Kongzi masih sangat asing di Indonesia. "Banyak orang keliru menganggapnya sebagai wadah penyebaran agama Kongfuzhu. Jelaslah bahwa meluruskan kekeliruan ini merupakan salah satu tugas utama dan pertama bagi Institut Kongzi di Indonesia," kata Pangkey.


Menurut Pangkey, nama "Kongzi" dipakai oleh Hanban karena dia merupakan pelopor pendidikan bahasa dan budaya China, seperti halnya nama Ki Hajar Dewantoro bagi rakyat Indonesia. Pembentukan Institut Kongzi tersebut akhirnya mengundang pertanyaan baru, kapan Indonesia bisa gencar memperkenalkan budaya dan bahasa bangsa kita di China melalui pembentukan institut serupa?

Sumber: Sinar Harapan

 

Suggest to a friend
  Print