Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Tentang Tiongkok Berita Kedubes
 
Home > Info Kedubes > Sambutan Dubes
Bapak Duta Besar Chen Shiqiu menerima wawancara Merdeka(2001/5)
2004/04/22

Bung Karno yang saya kenal sebagai mantan Presiden RI
Mantan Presiden Sukarno bukan hanya politisi Indonesia yang luar biasa, tapi juga negarawan yang ternama di seluruh dunia. Menurut saya, tiga sumbangan utama diberikan mantan Presiden Sukarno sebagai berikut.
Pertama, Bung Karno memimpin rakyat Indonesia memperoleh kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan kesatuan negara. Beliau sepanjang hidup memperjuangkan usaha anti kolonialisme dan pembebasan bangsa, dan menjadi pemimpin kemerdekaan Indonesia dengan keunikan daya himbauan dan daya tarik yang istimewa serta tekad juang pantang tunduk. Berkat prestasi historis yang dicatat Bung Karno sebagai pendiri Republik Indonesia dan pemimpin tertinggi sepanjang masa itu, Indonesia mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, lalu berperang melawan kaum koloniali Barat selama 5 tahun, sampai merebut kembali Irian Jaya dari Belanda.
Kedua, Bung Karno menyatukan berbagai partai politik dan beraneka suku bangsa serta meletakkan fondasi persatuan nasional. Beliau mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia dan menganjurkan menghormati pluralitus. Beliau menjunjung tinggi bendera anti kolonialisme, perjuangan kemerdekaan bangsa, bangunan republik yang baru mempersatupadukan kekuatan politik yang berbeda ideologi dan suku-etnis dengan berlainan kepercayaan kultural guna memperjuangkan tujuan yang sama, supaya terciptanya keadaan koeksistensi berbagai partai politik dan kerukunan suku bangsa di Indonesia.
Ketiga, Presiden Pertama RI ini memberi sumbangan yang luar biasa untuk mewujudkan kesetiakawanan negara-negara Asia-Afrika yang baru merdeka, membangun pola baru hubungan antara negara yang adil dan sama derajat supaya meningkatkan kedudukan Indonesia di dunia. Pada bulan April 1955 Bung Karno selaku pemimpin tuan rumah bersama dengan pemimpin-pemimpin negara Asia-Afrika yang baru lahir memprakarsai dan berhasil mengadakan Konfrensi Asia Afrika di Bandung di mana pertama kali diperdengarkan suara negara Asia Afrika yang baru lahir yang menyerukan terjalinnya hubungan internasional baru di dunia ini. Peristiwa itu mempunyai arti signifikan membuat zaman. Dasasila Konfrensi Bandung tetap memainkan peranan pengarahan terhadap hubungan internasional dewasa ini. Mantan Presiden Sukarno bukan hanya kebanggaan bangsa Indonesia, tapi juga salah satu wakil agung Asia Afrika yang memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan bangsa di kawasan Asia Afrika.

Hubungan politik Tiongkok dan Indonesia
Republik Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok pada tanggal 13 April 1950 dan merupakan salah satu nergara non-sosialis yang paling dini mengakui Tiongkok baru di dunia ini. Sejak itu pemerintah Indonesia selalu memegang kebijakan “Satu Tiongkok”, dan sering mempertahankan koordinasi erat dan saling mendukung dengan Tiongkok dalam perjuangan membela kedaulatan negara, keutuhan wilayah, melawan intervensi luar negeri dan di masalah-masalah vital internasional dan regional. Selama 30 tahun lebih di mana terbekunya hubungan kedua negara, pemerintah Indonesia pun bisa memegang kebijakan “Satu Tiongkok” dan tidak pernah menjalin hubungan resmi dengan pihak Taiwan. Sejak dipulihkannya hubungan diplomatik kedua negara pada tahun 1990, hubungan persahabatan dan kerja sama di berbagai bidang dipulihkan dan dikembangkan. Khususnya sejak Presiden Abdurahman Wahid dan Wapres Megawati Soekarnoputri berkuasa dan menjalankan demokratisasi dan reformasi di Indonesia, hubungan kedua negara menghadapi momentum perkembangan maju yang tidak pernah ada sebelumnya. Pada bulan Desember 1999, Presiden RI Abdurrahman Wahid berhasil melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok dan bersama dengan Presiden Tiongkok Jiang Zeming menentukan tujuan pengembangan hubungan kerjasama menyeluruh yang stabil, bertetangga baik dan saling percaya dalam jangka panjang di antara Tiongkok dan Indonesia. Pada Mei 2000 Menlu RI Alwi Shihab berkunjung ke Beijing dan bersama dengan Menlu Tiongkok Tang Jiaxuan menandatangani pernyataan bersama mengenai pengarahan kerjasama bilateral masa depan di mana ditunjukkan arah dan sektor kerjasama kedua negara dalam abad baru. Kedua pihak juga mendirikan Panitia bersama kerjasama bilateral dalam rangka memberi bimbingan politis dan koordinasi secara makro terhadap kerjasama dalam berbagai bidang serta memecahkan masalah-masalah yang masih ada dalam kerjasama kedua pihak. Dua tahun terakhir ini  kunjungan timbal balik dan saling kontak tingkat tinggi di antara pemimipin kedua negara bertambah sering. Pada bulan Juli tahun 2000, atas undangan Wapres RI Megawati Soekarnoputri, Wapres Tiongkok Hu Jingtao melakukan kunjungan persahabatan yang resmi dan mencapai kesepahaman dengan pihak Indonesia perihal implementasi kerjasama bilateral secara konkret. Kedua negara menandatangani “Perjanjian Bantuan Hukum Pidana”. Pergaulan dan kerjasama kedua negara semakin aktif dalam bidang parlemen, partai, militer, kebudayaan, pariwisata, pemuda, wanita dan lain sebagainya. Dalam isu regional dan internsional kedua pihak memegang prinsip-prinsip tidak intervensi urusan dalam negeri masing-masing, memecahkan perselisihan dengan negosiasi yang damai dan Lima Prinsip Hidup Berdampingan dengan Damai dan Dasasila Bandung. Kedua negara memiliki kemiripan pandangan dalam masalah demokrasi, HAM, dan perlindungan lingkungan dan lain sebagainya, mempunyai kesepahaman dalam mendorong membangun tata tertib politik dan ekonomi baru yang adil dan rasional dan membela kepentingan sah negara-negara berkembang serta selau memelihara koordinasi dan kerjasama erat. Pada masa transisi politik dan pemulihan ekonomi Indonesia sekarang ini, Pemerintah Tiongkok menyokong upaya-upaya Indonesia untuk membela kesatuan negara, keutuhan wilayah, memelihara kerukunan etnis, melawan intervensi luar negeri, kami percaya bahwa Indonesia bisa memelihara kestabilan politik, memulihkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan keadaan baru di mana persatuan bangsa, kerukunan suku etnis dan kesejahteraan bersama bisa terjamin.

Peran Sukarno Di Mata Rakyat dan Pemerintah RRC
Mantan Presiden Sukarno adalah sahabat lama rakyat Tiongkok. Beliau beserta Mantan Wapres Hatta bersama dengan pemimpin generasi tua Tiongkok antara lain Mantan Presiden Mao Zedong dan Mantan PM Zhou Enlai menggalang hubungan persahabatan dan kerjasama kedua negara. Hubungan tersebut merupakan pola baru hubungan antara negara yang memanifestasikan saling menghormati, dan saling menguntungkan, saling simpati dan saling menyokong, kesamaan derajat dan tidak campur tangan dalam urusan interal negeri masing-masing, koeksistensi secara damai atas dasar pengalaman sejarah yang sama dan tujuan perjuangan yang sama. Beliau pribadi juga bersahabat karib dengan pemimpin Tiongkok misalnya Mao Zedong, Liu Shaoqi, Zhou Enlai, Song Qingling dan lain-lain. Bung Karno pernah berkali-kali berkunjung ke Tiongkok pada tahun 1956, 1961, 1964 dan mendapat sambutan hangat oleh pemimpin dan rakyat Tiongkok. Pemimpin Tiongkok antara lain Liu Shaoqi, Zhou Enlai, Song Qingling pernah mengadakan kunjungan ke Indonesia atas undangan Pemerintah Indonesia, dan bersilaturahmi dengan Mantan Presiden Sukarno yang ramah tamah. Frekuensi tinggi saling kunjungan dan keakraban persahabatan antara pemimpin kedua negara terhadap mendorong maju hubungan persahabatan dan kerjasama kedua negara kita.
Bung Karno Bergairah polemis, berpengetahuan luas dan berpidato berapi-api itu sangat mengesankan bagi rakyat Tiongkok. Masyarakat Tiongkok yang dewasa pada masa itu masih ingat atas nama tenar dan keanggunan sikap Bung Karno sampai sekarang. Banyak mahasiswa Tiongkok yang belajar bahasa Indonesia waktu itu (sebagian di mereka sudah menjadi ahli Indologi yang ternama) bisa menghafalkan kalimat-kalimat terkenal dari pidato Bung Karno di Tiongkok. Pidato Bung Karno sudah dijadikan bahan bacaan dalam pelajaran untuk mahasiswa jurusan bahasa Indonesia di Tiongkok, dan pernah diterbitkan dalam terjemahan bahasa mandarin. Bung Karno merupakan seorang ahli pemikir yang terkenal dan pejuang teguh anti kolonialisme, juga seorang “pengambung lidah rakyat Indonesia” sebagai dikatakan beliau sendiri. Pikirannya tentang kesamaan derajat, keadilan, pembelaan kepentingan masyarakat bawah masih berpengaruh pada sejumlah parpol dan generasi muda Indonesia sampai sekarang.
Hubungan persahabatan dan kerjasama di antara Tiongkok dan Indonesia yang dipelopon bersama oleh mantan Presiden Sukarno dan pemimpin generasi tua Tiongkok meletakkan dasar kunci yang kukuh bagi hubungan bilateral kedua negara dewasa ini. Rakyat Tiongkok tidak akan melupakan untuk selama-lamanya sumbangan agung oleh Bung Karno dalam merintis dan mengembangkan persahabatan Tiongkok dan Indonesia. Menjelang 100 tahun hari kelahiran Bung Karno, saya ingin menyatakan perasaan yang mendalam dari saya pribadi dan Kedubes Tiongkok untuk memperingati dan mengenangi Bung Karno dalam wawancara dengan “MERDEKA”. Saya berharap mudah-mudahan hubungan persahabatan kedua negara yang dirintis bersama oleh pemimpin generasi tua kedua negara dan sudah melampaui setengah abad itu bisa diperkukuh secara lebih lanjut, mencapai kemajuan baru dengan terus-menerus di berbagai bidang dalam milenium baru ini.




Suggest to a friend
  Print