|
Bung Karno yang saya kenal sebagai mantan Presiden
RI Mantan Presiden Sukarno bukan hanya politisi
Indonesia yang luar biasa, tapi juga negarawan yang ternama
di seluruh dunia. Menurut saya, tiga sumbangan utama
diberikan mantan Presiden Sukarno sebagai
berikut. Pertama, Bung Karno memimpin rakyat Indonesia
memperoleh kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan kesatuan
negara. Beliau sepanjang hidup memperjuangkan usaha anti
kolonialisme dan pembebasan bangsa, dan menjadi pemimpin
kemerdekaan Indonesia dengan keunikan daya himbauan dan daya
tarik yang istimewa serta tekad juang pantang tunduk. Berkat
prestasi historis yang dicatat Bung Karno sebagai pendiri
Republik Indonesia dan pemimpin tertinggi sepanjang masa
itu, Indonesia mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
1945, lalu berperang melawan kaum koloniali Barat selama 5
tahun, sampai merebut kembali Irian Jaya dari
Belanda. Kedua, Bung Karno menyatukan berbagai partai
politik dan beraneka suku bangsa serta meletakkan fondasi
persatuan nasional. Beliau mengukuhkan Pancasila sebagai
ideologi negara Indonesia dan menganjurkan menghormati
pluralitus. Beliau menjunjung tinggi bendera anti
kolonialisme, perjuangan kemerdekaan bangsa, bangunan
republik yang baru mempersatupadukan kekuatan politik yang
berbeda ideologi dan suku-etnis dengan berlainan kepercayaan
kultural guna memperjuangkan tujuan yang sama, supaya
terciptanya keadaan koeksistensi berbagai partai politik dan
kerukunan suku bangsa di Indonesia. Ketiga, Presiden
Pertama RI ini memberi sumbangan yang luar biasa untuk
mewujudkan kesetiakawanan negara-negara Asia-Afrika yang
baru merdeka, membangun pola baru hubungan antara negara
yang adil dan sama derajat supaya meningkatkan kedudukan
Indonesia di dunia. Pada bulan April 1955 Bung Karno selaku
pemimpin tuan rumah bersama dengan pemimpin-pemimpin negara
Asia-Afrika yang baru lahir memprakarsai dan berhasil
mengadakan Konfrensi Asia Afrika di Bandung di mana pertama
kali diperdengarkan suara negara Asia Afrika yang baru lahir
yang menyerukan terjalinnya hubungan internasional baru di
dunia ini. Peristiwa itu mempunyai arti signifikan membuat
zaman. Dasasila Konfrensi Bandung tetap memainkan peranan
pengarahan terhadap hubungan internasional dewasa ini.
Mantan Presiden Sukarno bukan hanya kebanggaan bangsa
Indonesia, tapi juga salah satu wakil agung Asia Afrika yang
memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan bangsa di kawasan
Asia Afrika.
Hubungan politik Tiongkok dan
Indonesia Republik Indonesia menjalin hubungan
diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok pada tanggal 13
April 1950 dan merupakan salah satu nergara non-sosialis
yang paling dini mengakui Tiongkok baru di dunia ini. Sejak
itu pemerintah Indonesia selalu memegang kebijakan
“Satu Tiongkok”, dan sering mempertahankan
koordinasi erat dan saling mendukung dengan Tiongkok dalam
perjuangan membela kedaulatan negara, keutuhan wilayah,
melawan intervensi luar negeri dan di masalah-masalah vital
internasional dan regional. Selama 30 tahun lebih di mana
terbekunya hubungan kedua negara, pemerintah Indonesia pun
bisa memegang kebijakan “Satu Tiongkok” dan
tidak pernah menjalin hubungan resmi dengan pihak Taiwan.
Sejak dipulihkannya hubungan diplomatik kedua negara pada
tahun 1990, hubungan persahabatan dan kerja sama di berbagai
bidang dipulihkan dan dikembangkan. Khususnya sejak Presiden
Abdurahman Wahid dan Wapres Megawati Soekarnoputri berkuasa
dan menjalankan demokratisasi dan reformasi di Indonesia,
hubungan kedua negara menghadapi momentum perkembangan maju
yang tidak pernah ada sebelumnya. Pada bulan Desember 1999,
Presiden RI Abdurrahman Wahid berhasil melakukan kunjungan
kenegaraan ke Tiongkok dan bersama dengan Presiden Tiongkok
Jiang Zeming menentukan tujuan pengembangan hubungan
kerjasama menyeluruh yang stabil, bertetangga baik dan
saling percaya dalam jangka panjang di antara Tiongkok dan
Indonesia. Pada Mei 2000 Menlu RI Alwi Shihab berkunjung ke
Beijing dan bersama dengan Menlu Tiongkok Tang Jiaxuan
menandatangani pernyataan bersama mengenai pengarahan
kerjasama bilateral masa depan di mana ditunjukkan arah dan
sektor kerjasama kedua negara dalam abad baru. Kedua pihak
juga mendirikan Panitia bersama kerjasama bilateral dalam
rangka memberi bimbingan politis dan koordinasi secara makro
terhadap kerjasama dalam berbagai bidang serta memecahkan
masalah-masalah yang masih ada dalam kerjasama kedua pihak.
Dua tahun terakhir ini kunjungan timbal balik dan
saling kontak tingkat tinggi di antara pemimipin kedua
negara bertambah sering. Pada bulan Juli tahun 2000, atas
undangan Wapres RI Megawati Soekarnoputri, Wapres Tiongkok
Hu Jingtao melakukan kunjungan persahabatan yang resmi dan
mencapai kesepahaman dengan pihak Indonesia perihal
implementasi kerjasama bilateral secara konkret. Kedua
negara menandatangani “Perjanjian Bantuan Hukum
Pidana”. Pergaulan dan kerjasama kedua negara semakin
aktif dalam bidang parlemen, partai, militer, kebudayaan,
pariwisata, pemuda, wanita dan lain sebagainya. Dalam isu
regional dan internsional kedua pihak memegang
prinsip-prinsip tidak intervensi urusan dalam negeri
masing-masing, memecahkan perselisihan dengan negosiasi yang
damai dan Lima Prinsip Hidup Berdampingan dengan Damai dan
Dasasila Bandung. Kedua negara memiliki kemiripan pandangan
dalam masalah demokrasi, HAM, dan perlindungan lingkungan
dan lain sebagainya, mempunyai kesepahaman dalam mendorong
membangun tata tertib politik dan ekonomi baru yang adil dan
rasional dan membela kepentingan sah negara-negara
berkembang serta selau memelihara koordinasi dan kerjasama
erat. Pada masa transisi politik dan pemulihan ekonomi
Indonesia sekarang ini, Pemerintah Tiongkok menyokong
upaya-upaya Indonesia untuk membela kesatuan negara,
keutuhan wilayah, memelihara kerukunan etnis, melawan
intervensi luar negeri, kami percaya bahwa Indonesia bisa
memelihara kestabilan politik, memulihkan pertumbuhan
ekonomi, menciptakan keadaan baru di mana persatuan bangsa,
kerukunan suku etnis dan kesejahteraan bersama bisa
terjamin.
Peran Sukarno Di Mata Rakyat dan
Pemerintah RRC Mantan Presiden Sukarno adalah sahabat
lama rakyat Tiongkok. Beliau beserta Mantan Wapres Hatta
bersama dengan pemimpin generasi tua Tiongkok antara lain
Mantan Presiden Mao Zedong dan Mantan PM Zhou Enlai
menggalang hubungan persahabatan dan kerjasama kedua negara.
Hubungan tersebut merupakan pola baru hubungan antara negara
yang memanifestasikan saling menghormati, dan saling
menguntungkan, saling simpati dan saling menyokong, kesamaan
derajat dan tidak campur tangan dalam urusan interal negeri
masing-masing, koeksistensi secara damai atas dasar
pengalaman sejarah yang sama dan tujuan perjuangan yang
sama. Beliau pribadi juga bersahabat karib dengan pemimpin
Tiongkok misalnya Mao Zedong, Liu Shaoqi, Zhou Enlai, Song
Qingling dan lain-lain. Bung Karno pernah berkali-kali
berkunjung ke Tiongkok pada tahun 1956, 1961, 1964 dan
mendapat sambutan hangat oleh pemimpin dan rakyat Tiongkok.
Pemimpin Tiongkok antara lain Liu Shaoqi, Zhou Enlai, Song
Qingling pernah mengadakan kunjungan ke Indonesia atas
undangan Pemerintah Indonesia, dan bersilaturahmi dengan
Mantan Presiden Sukarno yang ramah tamah. Frekuensi tinggi
saling kunjungan dan keakraban persahabatan antara pemimpin
kedua negara terhadap mendorong maju hubungan persahabatan
dan kerjasama kedua negara kita. Bung Karno Bergairah
polemis, berpengetahuan luas dan berpidato berapi-api itu
sangat mengesankan bagi rakyat Tiongkok. Masyarakat Tiongkok
yang dewasa pada masa itu masih ingat atas nama tenar dan
keanggunan sikap Bung Karno sampai sekarang. Banyak
mahasiswa Tiongkok yang belajar bahasa Indonesia waktu itu
(sebagian di mereka sudah menjadi ahli Indologi yang
ternama) bisa menghafalkan kalimat-kalimat terkenal dari
pidato Bung Karno di Tiongkok. Pidato Bung Karno sudah
dijadikan bahan bacaan dalam pelajaran untuk mahasiswa
jurusan bahasa Indonesia di Tiongkok, dan pernah diterbitkan
dalam terjemahan bahasa mandarin. Bung Karno merupakan
seorang ahli pemikir yang terkenal dan pejuang teguh anti
kolonialisme, juga seorang “pengambung lidah rakyat
Indonesia” sebagai dikatakan beliau sendiri.
Pikirannya tentang kesamaan derajat, keadilan, pembelaan
kepentingan masyarakat bawah masih berpengaruh pada sejumlah
parpol dan generasi muda Indonesia sampai
sekarang. Hubungan persahabatan dan kerjasama di
antara Tiongkok dan Indonesia yang dipelopon bersama oleh
mantan Presiden Sukarno dan pemimpin generasi tua Tiongkok
meletakkan dasar kunci yang kukuh bagi hubungan bilateral
kedua negara dewasa ini. Rakyat Tiongkok tidak akan
melupakan untuk selama-lamanya sumbangan agung oleh Bung
Karno dalam merintis dan mengembangkan persahabatan Tiongkok
dan Indonesia. Menjelang 100 tahun hari kelahiran Bung
Karno, saya ingin menyatakan perasaan yang mendalam dari
saya pribadi dan Kedubes Tiongkok untuk memperingati dan
mengenangi Bung Karno dalam wawancara dengan
“MERDEKA”. Saya berharap mudah-mudahan hubungan
persahabatan kedua negara yang dirintis bersama oleh
pemimpin generasi tua kedua negara dan sudah melampaui
setengah abad itu bisa diperkukuh secara lebih lanjut,
mencapai kemajuan baru dengan terus-menerus di berbagai
bidang dalam milenium baru ini.
|