|
1. Mohon Yang Mulia jelaskan sejak kunjungan Bapak
Presiden Abdurrachman Wahid ke Beijing, kemajuan apa saja
yang telah dicapai sampai sekarang di bidang: a.
Politik b. Ekonomi c. Sosial dan
Budaya
Sejalan dengan selesainya Perang Dingin
pada awal 1990an dan dipulihkannya hubungan diplomatik,
hubungan RI-RRT melangkah ke masa baru dan berkembang
kembali. Khususnya sejak Presiden Wahid dan Wapres Megawati
berkuasa dan menjalankan demokratisasi dan reformasi di
Indonesia, hubungan bilateral kedua negara mencapai kemajuan
dan terobosan dalam berbagai bidang berkat pemimpin kedua
negara berpandangan jauh. Dalam bidang politik, pada
bulan Desember tahun 1999 Presiden RI Wahid melakukan
kunjungan kenegaraan ke RRT dan bersama Presiden
Jiang Zeming menentukan tujuan pengembangan
hubungan kerja sama menyeluruh yang stabil, bertetangga baik
dan saling percaya dalam jangka panjang. Pada bulan Mei
tahun 2000 Menlu RI Alwi Shihab berkunjung ke Beijing dan
bersama dengan Menlu RRT Tang Jiaxuan menandatangani
pernyataan bersama tentang pengarahan kerjasama bilateral di
masa depan di mana ditunjukkan arah dan sektor kerjasama
RI-RRT di abad baru. Kedua pihak mendirikan Komite Bersama
Kerjasama dalam rangka memberikan bimbingan politis dan
koordinasi secara makro pada kerja sama multi dimensional
kedua pihak dan menangani masalah yang masih ada dalam
kerjasama kedua pihak. Dua tahun terakhir ini saling kunjung
dan saling kontak pemimpin kedua negara bertambah sering
diadakan. Pada bulan Juli tahun 2000 Wapres RRT Hu Jingtao
mengadakan kunjungan persahabatan secara resmi ke Indonesia
atas undangan Wapres RI Megawati dan kedua pihak mencapai
kesepahaman mengenai perihal implementasi kerjasama
bilateral. Kedua negara menandatangani “Perjanjian
Bantuan Hukum Pidana”. Pergaulan dan kerjasama kedua
negara semakin aktif dalam bidang parlemen, partai, militer,
kebudayaan, pariwisata, pemuda, wanita dan lain sebagainya.
Dalam urusan regional dan internasional, kedua pihak
bersama-sama memegang prinsip-prinsip tidak intervensi
urusan dalam negeri masing-masing, menyelesaikan
perselisihan secara negosiasi dan jalan damai dan Lima
Prinsip Hidup Berdampingan dengan Damai, Dasasila Bandung.
Kedua negara memiliki kemiripan pandangan dalam masalah
demokrasi, HAM, perlindungan linkungan hidup dan sebagainya,
mempunyai kesepakatan paham dasar dalam mendorong
pembentukan tata tertib politik dan ekonomi baru yang adil
dan rasional dan membela kepentingan yang sah dari
negara-negara berkembang serta selalu mengadakan koordinasi
dan kerjasama yang erat. Kedua negara selalu saling
mendukung dalam masalah menyangkut pembelaan kedaulatan dan
keutuhan wilayah negara. Pemerintah RRT mendukung upaya
pemerintah RI dalam membela persatuan negara, keutuhan
kedaulatan dan melawan intervensi dari luar negeri dan
menghargai pula sikap pemerintah RI dalam memegang kebijakan
“Satu Tiongkok” mengenai masalah Taiwan. Dalam bidang ekonomi, perdagangan bilateral berkembang
terus, kerjasama ekonomi berprospek yang luas. Nilai
perdagangan bilateral hanya $1,18 milyar pada tahun 1990 di
mana hubungan diplomatik kedua negara dipulihkan, namun pada
tahun 1999 jumlah ini sudah mencapai $4,83 milyar. Pada
tahun 2000 jumlah perdagangan bilateral mencapai $7,46
milyar yang merupakan puncak dalam sejarah hubungan
perdagangan RRT-RI atau meningkat 54,5% daripada jumlah
tahun lalu. Dari nilai ekspor impor itu, Indonesia
mengekspor senilai $4,4 milyar dan mengimpor senilai $3,06
milyar, surplus Indonesia sebesar $1,34 milyar. Saling
investasi kedua negara terus bertambah dan kerjasama
teknologi semakin meningkat. Sejak tahun 1967 sampai tanggal
31 Mei 2000 total investasi Tingkok ke Indonesia $351,3 juta
dengan 76 proyek. Dewasa ini kedua negara sudah menjalin
kerjasama proyek konkret dalam bidang energi nuklir,
penginderaan jauh, laser, komunikasi, pertanian, perbiakan
bibit unggul pohon, perlindungan lingkungan hidup,
seismologi, kalibrasi, pertambangan dsb. Dalam bidang
sosial budaya, sejalan dengan perkembangan menyeluruh
hubungan persahabatan dan kerjasama kedua negara, pertukaran
dan kooperasi dalam sektor kebudayaan, pariwisata dan
pemerintah daerah berkembang pesat, pergaulan bersahabat
masyarakat semakin aktif dan berangsur-angsur menjadi salah
satu ciri-ciri khas dan tanda peningkatan hubungan kedua
negara yang mendalam. Pemerintah Indonesia berangsur-angsur
mencabut pembatasan sisa lama baik atas perayaan Hari Raya
Tiongkok maupun atas penerbitan koran majalah bahasa
mandarin dan pengimporan cetakan bahasa mandarin. Kedua
negara bekerja sama secara aktif dalam bidang pemulihan
pendidikan bahasa mandarin, penataran guru bahasa mandarin
dan pengadaan ujian bahasa mandarin di Indonesia. Departemen
Pariwisata kedua negara menandatangani MOU baru. Pada akhir
bulan Maret yang lalu Tiongkok mengumumkan Indonesia sebagai
negara tujuan pariwisata warga Tiongkok yang bertur ke luar
negeri. Propinsi dan kota kedua pihak juga meningkatkan
pergaulan dan membahas mengenai kemungkinan pembentukan
hubungan persaudaraan(sister city / sister province). Pada
tahun 2000, sebanyak 12 gubernur pemda atau 44% dari
totalnya 27 propinsi Indonesia memimpin 13 delegasi pejabat
daerah dan berkunjung ke Tiongkok. Banyak delegasi pemda
Tiongkok antara lain dari propinsi Fujian, Hubei, Shanghai,
Hainan, Guangdong, Xingjiang melakukan kunjungan pula ke
Indonesia. Dewasa ini Beijing dan Jakarta sudah menjadi
sister city dan menandatangani rencana kerjasama dan
pertukaran selama tahun 2000—2001. Selain itu LSM
Indonesia misalnya Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial dan
Kebudayaan Indonesia -China(ASSOCIATION OF INDONESIA-CHINA
ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL COOPERATION) dan Perhimpunan
Persahabatan RI—RRC bekerja banyak dengan positif dan
efektif dalam rangka meningkatkan pergaulan persahabatan
rakyat kedua negara. Mereka mengirim rombongan ke Tiongkok
untuk menghadiri upacara perayaan Hari Nasional ke-50 RRT
dan mengundang rombongan kesenian Tiongkok berpentas di
Indonesia dsb supaya mempertambah saling pengertian dan
persahabatan kedua
rakyat.
2. Apa saja yang
ditawarkan pemerintah RRC dalam upaya Indonesia memulihkan
situasi untuk melepaskan diri dari keterpurukannya
sekarang?
Pada tahun 1998
ketika Indonesia ditimpa krisis moneter yang parah ,
pemerintah Tiongkok menyediakan bantuan kredit sejumlah $300
juta untuk Indonesia dalam kerangka IMF serta memberi
bantuan gratis sebanyak $3 juta kepada Indonesia supaya bisa
dibeli obat-obatan yang sangat diperlukan. Mengingat
Indonesia menderita bencana alam dan gagal panen pangan,
pemerintah Tiongkok menyediakan kredit ekspor sejumlah $200
juta kepada pemerintah Indonesia untuk membeli beras dari
Tiongkok. Selama kunjungan Presiden Wahid di Beijing tahun
1999, pemerintah Tiongkok dan pemerintah Indonesia mencapai
kesepakatan bilateral bahwa pemerintah Tiongkok memberi
bantuan gratis dalam bentuk material senilai RMB40 juta
(kira-kira $5 juta) untuk Indonesia, dan kesepakatan ini
sedang dijalankan. Tahun ini pemerintah Tiongkok sekali lagi
menyediakan kredit ekspor sejumlah $13,5 juta untuk membantu
membangun suatu proyek pupuk kimia di Kalimantan Timur.
Selain itu, ketika Indonesia menderita bencana alam misalnya
gempa bumi dan banjir, pemerintah Tiongkok pernah dua kali
segera memberikan bantuan sejumlah puluhan ribu dolar AS
kepada masyarakat di daerah bencana melalui Palang Merah
Tiongkok. Sekarang dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia,
pemerintah Tiongkok berupaya meningkatkan perdagangan
bilateral dengan Indonesia secara aktif, bertambah mengimpor
produk ekspor Indonesia dalam jumlah besar dan menyediakan
berbagai produk Tiongkok yang murah meriah kepada rakyat
Indonesia, khususnya produk mesin, elektrik dan elektronik,
mendorong perusahaan Tiongkok yang mempunyai daya saing
menanam modal dan membangun pabrik perakitan di Indonesia,
mengikuti tender serta mengontrak proyek Indonesia dalam
rangka menyediakan lebih banyak jalur perdagangan dan
investasi, kerjasama teknologi dan pembangunan sumber daya
manusia demi pemulihan ekonomi Indonesia. Sejak pemulihan
hubungan diplomatik RRT-RI 10 tahun yang lalu, total surplus
perdagangan Indonesia sudah lebih dari $10 milyar dalam
perdagangan bilateral antara kedua negara kita. Sesuai
dengan masuknya Tiongkok menjadi anggota WTO dan
meningkatnya kerjasama regional dan sub-regional di kawasan
Asia-Pasifik, investasi, perdagangan dan kerjasama yang
saling menguntungkan antar kedua negara di berbagai bidang
pasti bisa diangkat ke tingkat yang lebih tinggi.
|