Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Tentang Tiongkok Berita Kedubes
 
Home > Info Kedubes > Sambutan Dubes
Bapak Duta Besar Chen Shiqiu menerima wawancara Langgeng(2001/4)
2004/04/22

1. Mohon Yang Mulia jelaskan sejak kunjungan Bapak Presiden Abdurrachman Wahid ke Beijing, kemajuan apa saja yang telah dicapai sampai sekarang di bidang:
a. Politik
b. Ekonomi
c. Sosial dan Budaya

Sejalan dengan selesainya Perang Dingin pada awal 1990an dan dipulihkannya hubungan diplomatik, hubungan RI-RRT melangkah ke masa baru dan berkembang kembali. Khususnya sejak Presiden Wahid dan Wapres Megawati berkuasa dan menjalankan demokratisasi dan reformasi di Indonesia, hubungan bilateral kedua negara mencapai kemajuan dan terobosan dalam berbagai bidang berkat pemimpin kedua negara berpandangan jauh.
Dalam bidang politik, pada bulan Desember tahun 1999 Presiden RI Wahid melakukan kunjungan kenegaraan ke RRT dan bersama Presiden  Jiang Zeming menentukan tujuan pengembangan hubungan kerja sama menyeluruh yang stabil, bertetangga baik dan saling percaya dalam jangka panjang. Pada bulan Mei tahun 2000 Menlu RI Alwi Shihab berkunjung ke Beijing dan bersama dengan Menlu RRT Tang Jiaxuan menandatangani pernyataan bersama tentang pengarahan kerjasama bilateral di masa depan di mana ditunjukkan arah dan sektor kerjasama RI-RRT di abad baru. Kedua pihak mendirikan Komite Bersama Kerjasama dalam rangka memberikan bimbingan politis dan koordinasi secara makro pada kerja sama multi dimensional kedua pihak dan menangani masalah yang masih ada dalam kerjasama kedua pihak. Dua tahun terakhir ini saling kunjung dan saling kontak pemimpin kedua negara bertambah sering diadakan. Pada bulan Juli tahun 2000 Wapres RRT Hu Jingtao mengadakan kunjungan persahabatan secara resmi ke Indonesia atas undangan Wapres RI Megawati dan kedua pihak mencapai kesepahaman mengenai perihal implementasi kerjasama bilateral. Kedua negara menandatangani “Perjanjian Bantuan Hukum Pidana”. Pergaulan dan kerjasama kedua negara semakin aktif dalam bidang parlemen, partai, militer, kebudayaan, pariwisata, pemuda, wanita dan lain sebagainya. Dalam urusan regional dan internasional, kedua pihak bersama-sama memegang prinsip-prinsip tidak intervensi urusan dalam negeri masing-masing, menyelesaikan perselisihan secara negosiasi dan jalan damai dan Lima Prinsip Hidup Berdampingan dengan Damai, Dasasila Bandung. Kedua negara memiliki kemiripan pandangan dalam masalah demokrasi, HAM, perlindungan linkungan hidup dan sebagainya, mempunyai kesepakatan paham dasar dalam mendorong pembentukan tata tertib politik dan ekonomi baru yang adil dan rasional dan membela kepentingan yang sah dari negara-negara berkembang serta selalu mengadakan koordinasi dan kerjasama yang erat. Kedua negara selalu saling mendukung dalam masalah menyangkut pembelaan kedaulatan dan keutuhan wilayah negara. Pemerintah RRT mendukung upaya pemerintah RI dalam membela persatuan negara, keutuhan kedaulatan dan melawan intervensi dari luar negeri dan menghargai pula sikap pemerintah RI dalam memegang kebijakan “Satu Tiongkok” mengenai masalah Taiwan.
Dalam bidang ekonomi, perdagangan bilateral berkembang terus, kerjasama ekonomi berprospek yang luas. Nilai perdagangan bilateral hanya $1,18 milyar pada tahun 1990 di mana hubungan diplomatik kedua negara dipulihkan, namun pada tahun 1999 jumlah ini sudah mencapai $4,83 milyar. Pada tahun 2000 jumlah perdagangan bilateral mencapai $7,46 milyar yang merupakan puncak dalam sejarah hubungan perdagangan RRT-RI atau meningkat 54,5% daripada jumlah tahun lalu. Dari nilai ekspor impor itu, Indonesia mengekspor senilai $4,4 milyar dan mengimpor senilai $3,06 milyar, surplus Indonesia sebesar $1,34 milyar. Saling investasi kedua negara terus bertambah dan kerjasama teknologi semakin meningkat. Sejak tahun 1967 sampai tanggal 31 Mei 2000 total investasi Tingkok ke Indonesia $351,3 juta dengan 76 proyek. Dewasa ini kedua negara sudah menjalin kerjasama proyek konkret dalam bidang energi nuklir, penginderaan jauh, laser, komunikasi, pertanian, perbiakan bibit unggul pohon, perlindungan lingkungan hidup, seismologi, kalibrasi, pertambangan dsb.
Dalam bidang sosial budaya, sejalan dengan perkembangan menyeluruh hubungan persahabatan dan kerjasama kedua negara, pertukaran dan kooperasi dalam sektor kebudayaan, pariwisata dan pemerintah daerah berkembang pesat, pergaulan bersahabat masyarakat semakin aktif dan berangsur-angsur menjadi salah satu ciri-ciri khas dan tanda peningkatan hubungan kedua negara yang mendalam. Pemerintah Indonesia berangsur-angsur mencabut pembatasan sisa lama baik atas perayaan Hari Raya Tiongkok maupun atas penerbitan koran majalah bahasa mandarin dan pengimporan cetakan bahasa mandarin. Kedua negara bekerja sama secara aktif dalam bidang pemulihan pendidikan bahasa mandarin, penataran guru bahasa mandarin dan pengadaan ujian bahasa mandarin di Indonesia. Departemen Pariwisata kedua negara menandatangani MOU baru. Pada akhir bulan Maret yang lalu Tiongkok mengumumkan Indonesia sebagai negara tujuan pariwisata warga Tiongkok yang bertur ke luar negeri. Propinsi dan kota kedua pihak juga meningkatkan pergaulan dan membahas mengenai kemungkinan pembentukan hubungan persaudaraan(sister city / sister province). Pada tahun 2000, sebanyak 12 gubernur pemda atau 44% dari totalnya 27 propinsi Indonesia memimpin 13 delegasi pejabat daerah dan berkunjung ke Tiongkok. Banyak delegasi pemda Tiongkok antara lain dari propinsi Fujian, Hubei, Shanghai, Hainan, Guangdong, Xingjiang melakukan kunjungan pula ke Indonesia. Dewasa ini Beijing dan Jakarta sudah menjadi sister city dan menandatangani rencana kerjasama dan pertukaran selama tahun 2000—2001. Selain itu LSM Indonesia misalnya Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial dan Kebudayaan Indonesia -China(ASSOCIATION OF INDONESIA-CHINA ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL COOPERATION) dan Perhimpunan Persahabatan RI—RRC bekerja banyak dengan positif dan efektif dalam rangka meningkatkan pergaulan persahabatan rakyat kedua negara. Mereka mengirim rombongan ke Tiongkok untuk menghadiri upacara perayaan Hari Nasional ke-50 RRT dan mengundang rombongan kesenian Tiongkok berpentas di Indonesia dsb supaya mempertambah saling pengertian dan persahabatan kedua rakyat.




2. Apa saja yang ditawarkan pemerintah RRC dalam upaya Indonesia memulihkan situasi untuk melepaskan diri dari keterpurukannya sekarang?

   Pada tahun 1998 ketika Indonesia ditimpa krisis moneter yang parah , pemerintah Tiongkok menyediakan bantuan kredit sejumlah $300 juta untuk Indonesia dalam kerangka IMF serta memberi bantuan gratis sebanyak $3 juta kepada Indonesia supaya bisa dibeli obat-obatan yang sangat diperlukan. Mengingat Indonesia menderita bencana alam dan gagal panen pangan, pemerintah Tiongkok menyediakan kredit ekspor sejumlah $200 juta kepada pemerintah Indonesia untuk membeli beras dari Tiongkok. Selama kunjungan Presiden Wahid di Beijing tahun 1999, pemerintah Tiongkok dan pemerintah Indonesia mencapai kesepakatan bilateral bahwa pemerintah Tiongkok memberi bantuan gratis dalam bentuk material senilai RMB40 juta (kira-kira $5 juta) untuk Indonesia, dan kesepakatan ini sedang dijalankan. Tahun ini pemerintah Tiongkok sekali lagi menyediakan kredit ekspor sejumlah $13,5 juta untuk membantu membangun suatu proyek pupuk kimia di Kalimantan Timur. Selain itu, ketika Indonesia menderita bencana alam misalnya gempa bumi dan banjir, pemerintah Tiongkok pernah dua kali segera memberikan bantuan sejumlah puluhan ribu dolar AS kepada masyarakat di daerah bencana melalui Palang Merah Tiongkok. Sekarang dalam proses pemulihan ekonomi Indonesia, pemerintah Tiongkok berupaya meningkatkan perdagangan bilateral dengan Indonesia secara aktif, bertambah mengimpor produk ekspor Indonesia dalam jumlah besar dan menyediakan berbagai produk Tiongkok yang murah meriah kepada rakyat Indonesia, khususnya produk mesin, elektrik dan elektronik, mendorong perusahaan Tiongkok yang mempunyai daya saing menanam modal dan membangun pabrik perakitan di Indonesia, mengikuti tender serta mengontrak proyek Indonesia dalam rangka menyediakan lebih banyak jalur perdagangan dan investasi, kerjasama teknologi dan pembangunan sumber daya manusia demi pemulihan ekonomi Indonesia. Sejak pemulihan hubungan diplomatik RRT-RI 10 tahun yang lalu, total surplus perdagangan Indonesia sudah lebih dari $10 milyar dalam perdagangan bilateral antara kedua negara kita. Sesuai dengan masuknya Tiongkok menjadi anggota WTO dan meningkatnya kerjasama regional dan sub-regional di kawasan Asia-Pasifik, investasi, perdagangan dan kerjasama yang saling menguntungkan antar kedua negara di berbagai bidang pasti bisa diangkat ke tingkat yang lebih tinggi.

Suggest to a friend
  Print