Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Tentang Tiongkok Berita Kedubes
 
Home > Info Kedubes > Sambutan Dubes
Hubungan Tiongkok-Indonesia tahun 2005
Wawancara Khusus Wartawan CRI Dengan Dubes Tiongkok Untuk Indonesia Lan Lijun
2006/01/01

(Wawancara Khusus Wartawan CRI(China Radio International) ini adalah wawancara Dengan Dubes Tiongkok Untuk Indonesia Lan Lijun tentang hubungan Tiongkok-Indonesia tahun 2005.)

Tahun ini genap 55 tahun pembukaan hubungan diplomatik Republik Rakyat Tiongkok dengan Republik Indonesia. Dengan upaya bersama pemerintah dan rakyat kedua negara, kerja sama dan pertukaran antara Tiongkok dan Indonesia di bidang politik, ekonomi, perdagangan, ilmu dan teknologi, kebudayaan dan pariwisata pada tahun 2005 telah mencapai kemajuan positif, sedang dalam urusan internasional dan regional, kedua negara telah mengadakan pula koordinasi dan kerja sama yang baik.

Bulan April tahun 2005, Presiden Tiongkok Hu Jintao telah mengadakan kunjungan kenegaraan yang sukses ke Indonesia. Dalam kunjungan itu, kepala negara Tiongkok dan Indonesia telah menandatangani deklarasi bersama tentang pembinaan kemiteraan strategis antara kedua negara, dengan demikian telah menunjukkan arah bagi perkembangan hubungan kedua negara. Ini adalah juga hubungan mitera strategis pertama yang ditandatangani Tiongkok dengan negara-negara ASEAN. Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono juga telah mengadakan kunjungan resmi ke Tiongkok pada akhir bulan Juli. Dalam waktu tidak sampai 4 bulan, kepala negara Tiongkok dan Indonesia telah merealisasi kunjungan timbal balik. Selain itu, Wakil Presiden Indonesia Yusuf Kalla, Ketua DPR Agung Laksono dan pemimpin-pemimpin Indonesia lainnya juga berturut-turut mengadakan kunjungan ke Tiongkok. Saling kunjungan yang kerap dilakukan antara pimpinan tingkat tinggi kedua negara telah memberikan dorongan penting kepada kemajuan hubungan kedua negara. Dapat dikatakan bahwa hubungan persahabatan dan kerja sama Tiongkok-Indonesia telah memasuki masa perkembangan yang baru.

Kerja sama ekonomi, perdagangan dan moneter antara kedua negara juga memelihara momentum kemajuan yang mantap. Tiongkok dan Indonesia sama-sama adalah negara besar yang banyak jumlah penduduknya, potensi pasarnya besar, dan dapat saling melengkapi di bidang ekonomi, prospek kerja sama antara kedua negara sangat luas. Di atas dasar nilai perdagangan bilateral pada tahun 2004 yang mencapai 13 miliar 480 juta dolar AS, nilai perdagangan bilateral untuk 10 bulan pertama tahun 2005 telah mencapai 14 miliar dolar AS, dan diperkirakan akan mencapai 18 miliar dolar AS sepanjang tahun 2005, menciptakan rekor tinggi yang baru. Dengan dihidupkannya rencana penurunan tarif secara menyeluruh zona perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN (CAFTA) bulan Juli lalu, tarif hampir 7.000 jenis komoditas Tiongkok dan 7 negara ASEAN termasuk Indonesia telah diturunkan dalam taraf besar. Hal ini telah memainkan peran positif dalam mendorong lebih lanjut perdagangan bilateral Tiongkok-Indonesia. Sejak tahun 2002, Tiongkok telah memberikan kredit preferensial sebanyak 800 juta dolar AS kepada Indonesia untuk mendukung pembangunan proyek-proyek infrastruktur penting di Indonesia, antara lain pembangunan Jembatan Surabaya-Madura, proyek jalan kereta api rangkap Jawa Tengah, pusat pembangkit listrik Sumatera Utara, bendungan di Jawa Barat dan proyek-proyek besar lainnya.

Selain itu, kerja sama kedua pihak di bidang-bidang kebudayaan, pendidikan dan pariwisata juga telah mencapai peningkatan. Tahun 2005 adalah ulang tahun ke- 600 pelayaran bahariwan dan ahli diplomatik Dinasti Ming Tiongkok, Cheng Ho ke Samudera Barat. Sehubungan dengan itu di Semarang, pemerintah Jawa Tengah dan organisasi masyarakat setempat telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan peringatan yang dihadiri delegasi-delegasi pemerintah dan perdagangan dari Tiongkok dan negara-negara Asia lain sebanyak seribu orang. Kegiatan-kegiatan itu telah mendorong perkembangan dan pertukaran hubungan persahabatan antara kedua negara dan kedua rakyat Tiongkok dan Indonesia.

Gelombang tsunami Samudera Hindia pada akhir tahun 2004 telah membawa malapetaka yang hebat kepada rakyat Indonesia, pemerintah dan rakyat Tiongkok juga ikut merasakan beratnya musibah itu bagai dirinya sendiri yang tertimpa. Setelah terjadinya bencana itu, pemerintah dan rakyat Tiongkok segera melancarkan aksi bantuan ke luar negeri yang paling besar skalanya dalam sejarah Tiongkok. Sejauh ini, sumbangan barang dan uang dari pemerintah dan rakyat Tiongkok telah mencapai 50 juta dolar AS, termasuk proyek-proyek yang sedang dibangun, antara lain 50 unit rumah papan untuk sekolah senilai lebih 5 juta dolar AS, sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami senilai 4 juta dolar AS, serta ' Kampung Persahabatan Tiongkok-Indonesia' dan 700 unit perumahan di Aceh dan Nias yang akan dibangun oleh Palang Merah Tiongkok dan Perhimpunan Asosiasi Amal Tiongkok. Jaringan stasiun sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami yang dibangun dengan bantuan Tiongkok kepada Indonesia sudah ada dua set yang selesai dipasang, dan pembangunan 10 set selebihnya akan diselesaikan dengan selekasnya. Selain itu, Tiongkok akan memberikan penataran terhadap tenaga teknik Indonesia.

" Melepas pandang ke tahun 2006, hubungan antara Tiongkok dan Indonesia sedang mengalami peluang baik perkembangan lebih lanjut. Pemerintah dan rakyat Tiongkok menaruh perhatian sangat besar pada pengembangan kemiteraan strategis dengan Indonesia. Tiongkok bersedia meningkatkan kerja sama dengan Indonesia di bidang-bidang sebagai berikut:

Pertama, aktif mengadakan kunjungan timbal baik dan konsultasi tingkat tinggi. Kontak yang kerap antara pemimpin tingakt tinggi antara kedua negara mengambil peran penting dalam mendorong perkembangan hubungan Tiongkok-Indonesia. Tahun depan, pemimpin kedua negara akan terus mengadakan kunjungan timbal balik, dan akan bertemu dalam banyak kesempatan.

Kedua, meningkatkan lebih lanjut kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral. Kepala negara Tiongkok dan Indonesia dalam saling kunjungannya pada tahun 2005 telah mencapai banyak kesepahaman mengenai kerja sama ekonomi dan perdagangan bilateral. Tahun 2006, kedua pihak akan terus melaksanakan kesepahaman-kesepahanan yang telah dicapai, dan berupaya mencapai kemajuan baru di bidang-bidang energi, pembangunan infrastruktur, pertanian dan investasi.

Ketiga, mendorong pertukaran dan kerja sama kedua negara di bidang-bidang kesehatan, ilmu dan teknologi, pendidikan, kebudayaan dan pariwisata. Tiongkok sangat prihatin akan pandemi flu burung yang terjadi di Indonesia. Pada paro pertama tahun 2006, Tiongkok akan menyelenggarakan serentetan pertemuan, antara lain pertemuan penggalangan dana untuk pencegahan dan pengendalian flu burung. Pihak Indonesia akan mengirim pejabat senior untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Keempat, meningkatkan lebih lanjut koordinasi dan kerja sama antara kedua negara dalam masalah regional dan internasional. Tiongkok dan Indonesia sebagai negara besar berkembang mempunyai pandangan yang sama atau hampir sama mengenai masalah-masalah regional dan internasional. Kami ingin meningkatkan lebih lanjut koordinasi dan kerja sama dengan Indonesia dalam masalah reformasi PBB dan urusan-urusan multilateral lainnya, sementara itu terus memelihara hubungan erat dalam dialog dan kerja sama regional.

Sebagai akhir kata, saya dengan tulus mengharapkan para pendengar Radio Tiongkok Siaran Internasional CRI di Indonesia semoga sehat wal'afiat dan sukses dalam tahun yang baru.

Suggest to a friend
  Print