Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Terkini Aktivitas Kedubes
 
Home > Flash News
Li Changchun Beri Kuliah Umum di UI
2012/04/28
 

Pada tanggal 27 April, UI menyelenggarakan kuliah umum H.E. Li Changchun (Anggota Tetap Politbiro Komite Pusat, Partai Komunis RRT).

Pada awal pidatonya, H.E. Li menyampaikan keyakinannya atas potensi Indonesia sebagai negara besar. Beliau mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penting di kawasan Asia dan merupakan negara terbesar di kawasan ASEAN. Hal tersebut membuat Indonesia menjadi mitra penting bagi Tiongkok dalam menjalin kerja sama internasional khususnya di kawasan ASEAN.

H.E. Li menceritakan mengenai sejarah, hubungan antara Tiongkok-Indonesia yang telah berlangsung sejak lama. Berdasarkan bukti yang ada, perwakilan kedua negara telah saling mengunjungi sejak masa kerajaan Sriwijaya. Salah satu perwakilan Tiongkok di era dahulu kala yang dikenal oleh masyarakat Indonesia adalah Laksamana Cheng Ho. Kerja sama terus berlanjut hingga tahun 1950-an yaitu pada saat terselenggaranya Konferensi Asia Afrika yang menghasilkan Deklarasi Bandung. Semangat dari Deklarasi Bandung sama dengan tujuan politik luar negeri Tiongkok yang menjunjung tinggi kerja sama yang setara di antara negara-negara di dunia. Kedua negara mempererat hubungan bilateralnya terutama ketika Presiden RRT, Hu Jintao, mengunjungi Indonesia dan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005. Kunjungan tersebut menandai kemitraan yang lebih kuat antara kedua negara.

Kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia merupakan kerja sama yang penting. Hal tersebut terlihat dari nilai perdagangan kedua negara yang mencapai 60 milyar dollar Amerika. Perusahaan-perusahaan Tiongkok didorong untuk berinvestasi di Indonesia dan diharapkan perusahaan Indonesia berani menanamkan investasinya di Tiongkok. Selain kerja sama perdagangan, H.E. Li menyampaikan bahwa Tiongkok akan memperkuat kerja sama di bidang lain seperti iptek, budaya, dan pendidikan. Perdana Menteri Wen Jiao Bao pada saat kunjungan ke Indonesia pada tahun lalu telah menyediakan 1.000 beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Direncanakan pada tahun selanjutnya akan dibuka kesempatan bagi 100 guru bahasa Mandarin dan 20 orang pemuda Indonesia untuk berkunjung ke Tiongkok dalam rangka menimba pengalaman. Pemerintah Tiongkok akan terus membuka kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk bertukar ilmu karena pemuda memiliki potensi untuk memberi sumbangan bagi kemajuan negara dan dunia.

H.E. Li menjelaskan bahwa Tiongkok walaupun menjadi kekuatan perdagangan terbesar kedua di dunia, namun Tiongkok masih tergolong pada negara berkembang. Pengalaman Tiongkok pada jaman dahulu yang menghadapi agresi dari negara-negara kuat membuat Tiongkok ingin bersahabat dengan semua negara. Tiongkok menganggap perdamaian sebagai sesuatu yang berharga sehingga Tiongkok tidak berupaya untuk menjadi hegemoni dunia. Tiongkok lebih mengutamakan kerja sama yang harmonis dengan semua negara secara adil dan setara.

Rektor UI Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri dalam sambutannya menyatakan kebahagiaannya atas kesediaan H.E. Li untuk menjadi pembicara kuliah umum. Gumilar menyatakan harapannya bahwa kedatangan H.E. Li ke Indonesia dapat meningkatkan kerja sama antara Indonesia-Tiongkok terutama kaitannya dengan kerja sama pendidikan.

Suggest to a friend
  Print